Posted by: prillia | June 11, 2007

G-8 dan Perlindungan Lingkungan

Setelah sempat diwarnai protes, unjuk rasa dan kekacauan di Rostock, pertemuan kepala negara industri terkemuka ke-33 negara industri terkemuka G-8 menghasilkan beberapa keputusan penting. Diantara menyangkut perlindungan lingkungan. Jerman pun dapat diuntungkan secara ekonomi olehnya.

Pertemuan tingkat tinggi negara-negara G-8 berlangsung 6 – 8 Juni lalu di Hotel Kempinski, Heiligendamm, pantai timur Jerman. Unjuk rasa mewarnainya sebelum dan ketika konferensi berlangsung.

Dua hari sebelum acara dimulai, di kota Rostock, kota terdekat dengan lokasi penyelenggaraan pertemuan, para pengunjuk rasa melempar bom-bom molotov, mencungkil plester trotoar dan melempari para petugas keamanan. Ratusan polisi dan demonstran terluka karenanya. Sekira sepuluh ribu orang berusaha menerobos pagar kawat berduri di sekeliling lokasi konferensi. Sebagian bahkan berkemah di sekitarnya. Dan delapan belas ribu petugas keamanan dikerahkan oleh pemerintah Jerman selama acara berlangsung.

Kanzelir Jerman Angela Merkel mengklaim pertemuan berjalan sukses. Mereka menghasilkan beberapa keputusan penting. Diantaranya mengenai bantuan negara makmur untuk penanggulangan AIDS di Afrika, masalah iklim dan perlindungan lingkungan, serta raket pertahanan milik Amerika di Eropa.

Dalam masalah iklim, Amerika telah melangkahkan persepsinya mendekati rekan-rekannya di Eropa. Bush tak hanya menerima pengertian perubahan iklim drastis tak alami ditinjau dari beberapa hipotesa. Dirinya, juga telah menerima maksud kepala-kepala negara lain untuk mengurangi gas rumah kaca secara drastis.

Merkel menerangkan di siang hari tanggal 7 Juni bahwa semua kepala negara telah setuju bahwa negosiasi mengenai pembatasan emisi karbon dioksida mesti diteruskan melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pun Presiden Bush yang sebelumnya tak sependapat dan berpendirian hal ini dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, semua peserta sekata untuk megurangi emisi karbon dioksida hingga setengahnya hingga tahun 2050 „menjadi setengah emisi saat ini secara serius.“ Jika tujuan jangka panjang ini berhasil, diharapkan dapat menghindari lonjakan dua derajat Celsius temperatur bumi.

Kanselir Merkel sangat puas karenanya. Menurutnya, hasil kompromi ini merupakan langkah besar, sehingga para menteri lingkungan hidup memiliki mandat untuk memufakati pengurangan buangan CO2 sesuai hasil konferensi Kyoto dalam pertemuan di Bali bulan Desember nanti. Juga Sekretaris jenderal PBB, Ban Ki-Moon, menyambut gembira akan persamaan persepsi para kepala negara negara industri terkemuka.

Ekonomi Jerman menyambut positif salah satu hasil pertemuan tingkat tinggi ini. Bersama menekan jumlah gas rumah kaca dan penggunaan energi secara hemat serta membatasi kenaikan 1,5 – 2,5 derajat temperatur dunia adalah sebuah program pertumbuhan bagi ekonomi dan ekspor Jerman. „Makin cepat kerangka perlindungan iklim dunia terbentuk, maka industri akan sesegera mungkin berinvestasi pada teknologi ramah lingkungan,“ menurut seorang juru bicara Siemens.

 

Sebagai kampiun produsen energi alternatif, ekonomi Jerman berada dalam posisi bagus untuk memerangi efek gas rumah kaca. Sehingga produsen mesin-mesin Jerman dapat menawarkan teknik-teknik sangat hemat energi dan hemat bahan baku. „Perusahaan-perusahaan kami akan dapat menciptakan segalanya, dari pompa, teknologi penggerak hemat energi, hingga penghasil listrik,“ kata bos Ikatan Mesin dan Instalasi Jerman (VDMA) Hannes Hesse kepada surat kabar Die Welt setelah konferensi usai. Akan tetapi, „Semua tak bisa didapatkan cuma-cuma.“ Para pelanggan, tambahnya, yang ingin menggunakan teknologi ramah lingkungan buatan Jerman, juga harus merogoh kocek dalam-dalam.


Leave a response

Your response:

Categories